Label

Sabtu, 13 Oktober 2012

KERAJAAN BALI




SUMBER-SUMBER SEJARAH
Sumber sejarah yang menjelaskan keberadaan kerajaan Bali adalah sebagai berikut:
1. Kitab sejarah Dinasti tangkuna
2. Cap kecil dari tanah liat
Isi : Mantra-mantra atgam Budha dalam bahasa Sangsekerta.
3. Prasasti Pjengyang (875 Saka)
Isi : Nama Sri (Wali) Lipuram yang berarti sebuah kerajaan di Pulau Bali.
4. Prasasti Belanjong (Sanur,885 Saka)
Isi : Menyebut nama Raja Kesariwarmadewa
5. Prasasti yang berangka tahun 837, 888 Saka
Isi : menyebutkan nama raja Ugrasena’/Sang Ratu Sri Ugrasena, dan menyebutkan Panglapuan di Singhamandawa
6. Prasasti yang berangka tahun 1010, 1020, 1023 Saka
Isi : menerangkan masa pemerintahan Ratu Sri Maharaja Sri Sakalendukirana Isyana Gunadharma Lekasmidhara Wijayatunggadewi (ditafsirkan sebagai wangsakerta/pendiri dinasti) setelah dinasti warmadewa yang kemudian ditafsirkan dinasti Sakelendukirana).


KEHIDUPAN POLITIK
Raja-raja dan keadaan pemerintahannya antara lain :
1. Dharmodayana (989-1011 M)
- Memerintah bersama istrinya yang bernama Gunapriyandharmapatmi sampai dengan tahun 1001
- Mempunyai 3 ornag putra yaitu : Airlangga ( yang menjadi raja di Medang kamulan) Marakata dan Anak Wungsu
- Meninggal pada tahun 1011 dan di candikan di Banu Wka
2. Marakata (1011-1022 M)
- Dianggap kebenaran hokum oleh masyarakatnya karena selalu melindungi rakyatnya sehingga selalu ditaati dan disegani olh rakyatnya.
- Untuk kepentingan rakyatnya, beliau membangun sebuah prasada/ bangunan suci didaerah Tapak Siring.
3. Anak Wungsu (1049-1077)
- Paling banyak meninggalkan prasasti (± 28 buah prasasti)
- Keadaan Negara aman dan tentram
- Diperkirakan tidak memiliki putra dari permaisuri yang bernama Bhatari.
- Ia meninggal pada tahun 1077 dan didharmakan didaerah “Tampak Siring”
4. Sri Jayasakti (1113-1150 M)
- Dikeluarkan 2 kitab UU yaitu “Uttara Widdhi Balawan dan Raja Wacana/Rajaniti”.
- Agama Budha dan Syiwa berkembang dengan baik

STRUKTUR KERAJAAN
Dalam struktur kerajaan lama, Raja – raja Bali dibantu oleh badan penasehat yang disebut “Pakirakiran I Jro Makabehan” yang terdiri dari beberapa Senapati dan Pendeta Syiwa yang bergelar “Dang Acaryya” dan Pendeta Buddha yang bergelar “Dhang Upadhyaya”. Raja didampingi oleh badan kerajaan yang disebut “Pasamuan Agung” yang tugasnya memberikan nasihat dan pertimbangan kepada raja mengenai jalannya pemerintahan. Raja juga dibantu oleh Patih, Prebekel, dan Punggawa – punggawa

STRUKTUR PEMERINTAHAN
Masa pemerintahan Sri Kresna Kepakisan di Bali merupakan awal terbentuknya dinasti baru yaitu dinasti Kresna Kepakisan yang kemudian berkuasa di Bali sampai awal abad ke-20 (1908). Beliau membawa pengaruh-pengaruh baru dari Majapahit termasuk para bangsawan. Bangsawan baru ini merupakan kelompok elite yang menempati status dan peranan penting atas struktur pelapisan masyarakat Bali. Hal ini sekaligus menggeser kedudukan dan peranan bangsawan dari kerajaan Bali Kuno.

KEHIDUPAN EKONOMI
Berdasarkan prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh Anak Wungsu dapat disimpulkan bahwa
1. Kehidupan ekonomi masyarakat Bali di topang oleh pertanian dengan berbagai macam hasil pertanian yang meliputi padi gaga, enau, pinang, bamboo dam kemiri
2. Penduduk juga memelihara berbagai macam binatang ternak seperti : Kambing’ kerbau, lembu, babi, bebek, kuda dan ayam
3. Kuda merupakan binatang yang paling berharga karena digunakan untuk membawa barang hasil pertanian maupun perdagangan. Jadi disamping bertani masyarakat Bali juga berternak dan berdagang

KEHIDUPAN SOSIAL-BUDAYA
Dalam kehidupan sosial, masyarakat Bali, tidak terlepas dari agama yang dianutnya yaitu agama hindu (mempunyai pengaruh yang paling besar) dari Budha sehingga keadaan sosialnya sebagai berikut
1. Terdapat pembagian golongan/kasta dalam masyarakat yaitu Brahmana, Ksatria dan Waisya
2. Masing-masing golongan mempunyai tugas dan kewajiban yang tidak sama disbanding keagamaan
3. Pada masa Anak Wungsu dikenal adanya beberapa golongan pekerja khusus yaitu pande besi, pande emas, dan pande tembaga dengan tugas membuat alat-alat pertanian, alat-alat rumah tangga, senjata, perhiasan dan lain-lain.
Dari ketiga hal diatas dapa kiata ambil kesimpulan sebagi berikut
1. Kehidupan sosial masyarakat Bali sudah teratur dan rapi
2. Sudah ada system pembagian kerja
Hasil budaya kerajaan Bali antara lain berupa
1. Prasasti
2. Cap Materai kecil dari tanah liat yang disimpan dalam stupa kecil
3. Arca misalnya arca durga
4. Dua kitab undang-undang yang dipakai pada masa pemerintahan Jayasakti yaitu Uttara Widdhi Balawan dan Rajawacana/Rajaniti
5. Pada zaman Jayasakti agam Budha dan Syiwa berlambang dengan baik bahkan raja sendiri disebut sebagai penjelmaan dewa Wisnu (airan Waisnawa)
6. Prasasti di Bali paling banyak menggunakan bahasa Jawa kuno sehingga hubungan dengan Jawa diperkirakan terjalin dengan baik.

BUKTI SEJARAH
 Berasal dari kitab sejarah dinasti Tang.
 Di sebelah timur Ho – ling terletak P’oli dan bahwa negeri Da – pa – tau terletak di sebelah selatan Kamboja.
 Penduduknya menulis di atas daun Patra (rontal)
 Di dalam berita Cina dikatakan bahwa mayat orang Da – pa – tau diberi bekal berupa perhiasan (emas) dan dibakar.
 Prasasti Bali yang tertua berangka tahun 804 S (882 M) isinya : pemberian izin kepada para biksu dan pendeta agama Buddha untuk membuat pertapaan di bukit Cintamani.
 Prasasti berangka tahun 818 S (896 M) dan 883 S (911 M) isinya : mengenai tempat suci dan tidak menyebutkan nama Raja.
 Prasasti yang ditemukan di desa Blanjong, dekat Sanur *Permukaan prasasti ditulis sebagian dengan huruf Nagari (huruf India) dan sebagian dengan huruf Bali kuno, sedangkan bahasanya menggunakan bahasa sansekerta. Angka berupa Candra Sangkala dan berbunyi “Khecarawahni – Murti artinya tahun 836 S (914 M).

BERDIRINYA KERAJAAN BALI
 Pusat Kerajaan Bali pertama di Singhamandawa.
 Raja pertama Sri Ugranesa.
 Beberapa prasasti yang ditemukan tidak begitu jelas menggambarkan bagaimana pergantian diantara 1 keluarga raja dengan keluarga raja yang lain.
 Prasasti yang ditemukan di Jawa Timur hanya menerangkan bahwa Bali pernah dikuasai Singasari pada abad ke – 10 & Majapahit abad ke – 14.

. SISTEM KEPERCAYAAN
Menyembah banyak dewa yang bukan hanya berasal dari dewa Hindu & Buddha tetapi juga dari kepercayaan animisme mereka.

MATA PENCAHARIAN
 Bercocok tanam
 Peternakan & berburu
 Pedagangan

Sejarah Singkat Runtuhnya Kerajaan Bali

a. Penyebab Kejayaan
1) Naik tahtanya Dharmodayana. Pada masa pemerintahnnya, system pemerintahan Kerajaan Bali semakin jelas.
2) Perkawinan antara Dharma Udayana dengan Mahendradata yang merupakan putri dari raja Makutawangsawardhana dari Jawa Timur, sehingga kedudukan Kerajaan Bali semakin kuat.
b. Penyebab Kemunduran
1) Patih Kebo Iwa yang berhasil dibujuk untuk pergi ke Majapahit, sesampainya di Majapahit Kebo Iwa dibunuh.
2) Patih Gajah Mada yang berpura-pura menyerah dan minta diadakan perundingan di Bali, lalu ia menangkap raja Bali yaitu Gajah Waktra sehingga kerajaan Bali berada di bawah kekuasaan Majapahit.

Bidang Kesenian dan Kesusastraan
Kehidupan seni budaya ketika itu telah berkembang dengan baik sebagai kelanjutan perkembangan seni budaya jaman Bali Kuna abad 10-14 M. Ketika itu masyarakat Bali telah mengenal beberapa jenis kesenian seperti: lakon topeng, diman pada jaman Bali Kuna disebut dengan nama pertapukan. Demikian pula tontonan wayang telah dikenal pada masa Bali Kuna yang disebut Parbwayang. Seni tabuh telah pula dikenal dalam prasasti Bali Kuna disebut-sebut nama alat pemukul gamelan, tukang kendang, peniup seruling dan lain- lainnya.

masa Samprangan masyarakat Bali
Ketika masa Samprangan masyarakat Bali telah mengenal beberapa kitab kesusastraan yang berfungsi sebagai penuntun kejiwaan masyarakat, sehingga mereka dapat berbuat sesuai dengan ajaran-ajaran agama. Beberapa kitab kesusastraan yang dikenal ketika masa Samprangan adalah: kesusastraan Calonarang, Bharatayuddha, Ramayana, Arjuna Wiwaha dan lain-lain.

Kehidupan beragama
Mengenai kehidupan beragama pada masa kerajaan Samprangan tidak begitu banyak diketahui karena kerajaan Samprangan berlangsung tidak begitu lama yaitu kurang dari setengah abad. Selain itu keadaan pemerintahan belum stabil sebagai akibat munculnya pemberontakan pada desa-desa Bali Aga. Agama yang dianut masyarakat pada masa ini adalah diduga Siwa-Budha, dimana dalam upacara-upacara keagamaan kedua pendeta itu mempunyai peranan yang penting. Apabila ditinjau dari segi jumlah penganut dan pengaruhnya, agama Siwa tergolong lebih besar dari agama Budha, karena menurut sumber-sumber arkeologi agama Siwa berkembang lebih dulu dari agama Budha

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar